RANGKUMAN BAB V
Membetulkan dan Mengefektifkan Kalimat
A. Pengantar
Untuk dapat membetulkan sesuatu, kita harus mengetahui dengan tepat letak kesalahanya terlebih dahulu. Demikian pula dalam pembetulan suatu kalimat. Kesalahan penyimpangan dari aturan yang benar atau betul. Pada garis besarnya kesalahan itu dapat dibedakan menjadi kesalahan ejaan (termasuk di dalamnya kesalahan tanda baca) dan kesalahan tata bahasa.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat ditangkap dan mudah dipahami
oleh pembaca, menghayati masing-masing tuturan itu . Kriteria lain
adalah kelaziman. Pemakaian kata, susunan frasa dan kalimat tertentu
dipandang lazim dalam ragam bahasa tertentu, namun belum tentu lazim
dalam ragam bahasa lain.
B. Kesalahan Kalimat
Kesalahan kalimat dapat dibedakan dari dua segi, yakni kesalahan internal dan kesalahan eksternal. Disini kesalahan eksternal diukur dari kalimat-kalimat lain yang menjadi konteks atau lingkungannya.
Kesalahan dari segi internal dapat dipilah menjadi beberapa tipe. Tipe
pertama adalah kesalahan kandungan isi yang menyebabkan kalimat menjadi
tidak logis sebagaimana tampak pada contoh berikut :
“Menurut Habibi (dalam Nimbar, 1993) menyatakan bahwa ilmu pengetahuan
dan teknologi yang diterapkan secraa tepat guna diarahkan untuk
memberantas kemiskinan dan keterbelakangan.”
Semua kalimat diatas merupakan kalimat yang tidak logis. Pada kalimat
kalimat diatas dapat dinyatakan siapa yang menyatakan. Jika dinyatakan
hal itu, jawaban tidak ada, walaupun bisa saja dijawab dengan habibi.
Akan tetapi , Habibi pada kalimat diatas tidak menempati pokok kalimat,
melainkan keterangan sebagaimana disyaratkan oleh kata mereka. Jadi
pertanyaan itu sebenarnya tidak dapat dijawab dengan Habibi. Baru bisa
dijawab dengan habibi jika kalimatnya diubah menjadi Habibi (dalam
Nimbara,1993) menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi yang
diterapkan secara tepat guna diarahkan untuk memberantas kemiskinan dan
keterbelakangan.
C. Membetulkan Kesalahan Kalimat
Ada beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat .
1. Kalimat tanpa subjek
Dalam menyusun sebuah kalimat seringkali dengan kata depan atau preposisi. Lalu verbanya menggunakan bentukaktif atau berawalan men-baik dengan atau tanpa akhiran kan. Dengan demikian dihasilkan kalimat-kalimat salah seperti di bawah ini :
Dalam menyusun sebuah kalimat seringkali dengan kata depan atau preposisi. Lalu verbanya menggunakan bentukaktif atau berawalan men-baik dengan atau tanpa akhiran kan. Dengan demikian dihasilkan kalimat-kalimat salah seperti di bawah ini :
a. Bagi yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya di kantor.
b. Untuk perbaikan prasarana pengairan tersebut memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat
b. Untuk perbaikan prasarana pengairan tersebut memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat
Untuk membetulkan kalimat diatas dapat dilakukan dengan
1. Menghilangankan kata depan pada masing-masing kalimat tersebut, atau
2. Mengubah verba pada kalimat tersebut, misalnya dari aktif menjadi pasif
1. Menghilangankan kata depan pada masing-masing kalimat tersebut, atau
2. Mengubah verba pada kalimat tersebut, misalnya dari aktif menjadi pasif
Jadi kemungkinan pembetulan kalimat tersebut adalah
a. Yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya dikantor
b. Perbaikan prasarana pengairan tersebut memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat.
a. Yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya dikantor
b. Perbaikan prasarana pengairan tersebut memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat.
2. Kalimat dengan Objek Berkata Depan
Kesalahan yang telah dibicarakan diatas dapat dikatakan sebgai kesalahan pemakaian kata depan pada awal kalimat yang biasanya diduduki subjek. Kesalahan pemakaian kata depan itu juga sering ditemui pada objek. Sebagai contoh :
1. Hari ini kita tidak akan membicarakan lagi mengenai soal harga, tetapi soal ada tidaknya barang itu.
2. Dalam setiap kesempatan mereka tidak bosan-bosanya mendiskusikan tentang dampak positif pembuatan waduk itu.
Kesalahan yang telah dibicarakan diatas dapat dikatakan sebgai kesalahan pemakaian kata depan pada awal kalimat yang biasanya diduduki subjek. Kesalahan pemakaian kata depan itu juga sering ditemui pada objek. Sebagai contoh :
1. Hari ini kita tidak akan membicarakan lagi mengenai soal harga, tetapi soal ada tidaknya barang itu.
2. Dalam setiap kesempatan mereka tidak bosan-bosanya mendiskusikan tentang dampak positif pembuatan waduk itu.
Kalimat diatas dapat dibetulkan dengan menghilangkan kata depan mengenai
pada kalimat (1) tentang pada kalimat (6). Kesalahan seperti pada
contoh diatas ini juga terjadi karena mengacaukan dua bentuk yang benar,
yaitu :
- Membicarakan soal harga
- Berbicara mengenai soal harga
- Mendiskusikan dapak positif pembuatan waduk
- Berdiskusi tentang dampak positif pembuatan waduk
- Berbicara mengenai soal harga
- Mendiskusikan dapak positif pembuatan waduk
- Berdiskusi tentang dampak positif pembuatan waduk
3. Konstruksi Pemilik Berkata Depan
Kesalahan pemakaian kata depan lain ang ditemui pada konstruksi frasa : termilik + pemilik. Secara berlebihan sering ditemui adanya kecenderungan mengeksplisitkan hubungan antara termilik dengan pemilik dengan memakai kata depan dari atau daripada, misalnya :
1. Kebersihan lingkungan adalah kebutuhan dari warga
2. Buku-buku dari pada perpustakaan perlu ditambah
Konstruksi frasa yang sejenis dengan kebutuhan dari warga dan buku-buku daripada perpustakaan ini sering kita dengan ddalam pidato-pidato (umumnya tanpa teks). Dalam karangan keilmuan konstruksi frasa yang tidak baku seperti diatas hendaknya dihindari karena dalam bahasa Indonesia hubungan “termilik” + pemilik bersifat implisit. Karena terpengaruh oleh (antara lain) bahasa Jawa hubungan “termilik+pemilik” sering di eksplisitkan dengan suffix-nya, misalnya :
- Rumahnya Arif
- Bajunya Reza
Kesalahan pemakaian kata depan lain ang ditemui pada konstruksi frasa : termilik + pemilik. Secara berlebihan sering ditemui adanya kecenderungan mengeksplisitkan hubungan antara termilik dengan pemilik dengan memakai kata depan dari atau daripada, misalnya :
1. Kebersihan lingkungan adalah kebutuhan dari warga
2. Buku-buku dari pada perpustakaan perlu ditambah
Konstruksi frasa yang sejenis dengan kebutuhan dari warga dan buku-buku daripada perpustakaan ini sering kita dengan ddalam pidato-pidato (umumnya tanpa teks). Dalam karangan keilmuan konstruksi frasa yang tidak baku seperti diatas hendaknya dihindari karena dalam bahasa Indonesia hubungan “termilik” + pemilik bersifat implisit. Karena terpengaruh oleh (antara lain) bahasa Jawa hubungan “termilik+pemilik” sering di eksplisitkan dengan suffix-nya, misalnya :
- Rumahnya Arif
- Bajunya Reza
4. Kalimat yang ‘pelaku’ dan verbanya tidak bersesuaian.
Dalam kalimat dasar, verba dapat dibedakan menjadi verba yang menuntut hadirnya satu ‘pelaku’ dan verba yang menuntut hadirnya lebih dari satu ‘pelaku’. Dalam pembentukan kalimat, kesalahan yang mungkin terjadi ialah yang penggunaan verba dua ‘pelaku’, namun salah saty ‘pelakunya’ tidak tercantumkan’, contoh :
1. Dalam perkelahian itu dia berpukul-pukulan dengan gencarnya
2. Dalam seminar itu dia mendiskusikan perubahan sosial masyarakat pedesaan sampai berjam-jam.
Dalam kalimat dasar, verba dapat dibedakan menjadi verba yang menuntut hadirnya satu ‘pelaku’ dan verba yang menuntut hadirnya lebih dari satu ‘pelaku’. Dalam pembentukan kalimat, kesalahan yang mungkin terjadi ialah yang penggunaan verba dua ‘pelaku’, namun salah saty ‘pelakunya’ tidak tercantumkan’, contoh :
1. Dalam perkelahian itu dia berpukul-pukulan dengan gencarnya
2. Dalam seminar itu dia mendiskusikan perubahan sosial masyarakat pedesaan sampai berjam-jam.
5. Penempatan yang Salah Kata Aspek pada Kalimat Pasif Berpronomina
Menurut kaidah, konstruksi pasif berpronomina berpola aspek + pronomina + verba dasar. Jadi tempat kata aspek adalah dideppan pronomina. Kesalahan yang sering terjadi ialah penempatan aspek diantara pronomina dengan verba atau dalam pola : * pronomina + aspek + verba dasar, misalnya :
1. Saya sudah katakan bahwa …
2. Kita sedang periksa …
3. Kami telah teliti …
6. Kesalahan Pemakaian Kata Sarana
Dalam menyususn kalimat sering dipakai kata sarana, kata sarana itu dapat berupa kata depan dan kata penghubung. Kata depan lazimnya terdapat dalam satu frasa depan, sedang kata penghubung umumnya terdapat dalam kalimat majemuk baik setara maupun yang bertingkat.
Kesalahan pemakaian kata depan umumnya terjadi pada pemakaian kata depan di, pada, dan dalam. Ketiga kata depan ini sering dikacaukan, misalnya :
1. Disaat istirahat penyulih mendatangi para petani.
2. Benih itu ditaburkan pada kolam renang yang baru.
Kata depan di kalimat (1) seharusnya adalah pada; kata depan pada (2) seharusnya adalah dalam atau ke dalam; kata depan dalam (3) seharusnya adalah pada.
Menurut kaidah, konstruksi pasif berpronomina berpola aspek + pronomina + verba dasar. Jadi tempat kata aspek adalah dideppan pronomina. Kesalahan yang sering terjadi ialah penempatan aspek diantara pronomina dengan verba atau dalam pola : * pronomina + aspek + verba dasar, misalnya :
1. Saya sudah katakan bahwa …
2. Kita sedang periksa …
3. Kami telah teliti …
6. Kesalahan Pemakaian Kata Sarana
Dalam menyususn kalimat sering dipakai kata sarana, kata sarana itu dapat berupa kata depan dan kata penghubung. Kata depan lazimnya terdapat dalam satu frasa depan, sedang kata penghubung umumnya terdapat dalam kalimat majemuk baik setara maupun yang bertingkat.
Kesalahan pemakaian kata depan umumnya terjadi pada pemakaian kata depan di, pada, dan dalam. Ketiga kata depan ini sering dikacaukan, misalnya :
1. Disaat istirahat penyulih mendatangi para petani.
2. Benih itu ditaburkan pada kolam renang yang baru.
Kata depan di kalimat (1) seharusnya adalah pada; kata depan pada (2) seharusnya adalah dalam atau ke dalam; kata depan dalam (3) seharusnya adalah pada.
D. Efektifitas Kalimat
Ada beberapa yang mengakibatkan suatu kalimat menjadi kurang efektif. Penyebab suatu tuturan menjadi kurang efektif adalah :
1. Kurang Padunya Kesatuan Gagasan
Telah kita ketahui bahwa setiap tuturan terdiri atas beberapa bagian atau satuan gramatikal. Agar tuturan itu memiliki kesatuan gagasan, satuan-satuan gramatikalnya harus lengkap. Disamping itu, masing-masing satuan tersebut hendaknya mendukung satu gagasan utama atau ide pokoknya. Contoh :
“Setamat dari SMA, Wati bercita-cita melanjutkan studinya di Fakultas Ekonomi. Fakultas Ekonomi didirikan pada tahun 1972. Dosen, asisten, dan karyawanya mempunyai dedikasi yang cukup tinggi.
2. Kurang ekonomis pemakaian kata
Ekonomis dalam berbahasa berarti penghematan kata dalam tuturan. Penghematan ini berkaitan dengan masalah keseksamaan penuturan. Agar penuturan menjadi seksama, kata-kata yang dipakai hendaknya sesuai benar dengan gagasan yang ingin di ungkapkan. Untuk itu, kata-kata yang tidak diperlukan benar dipandang dari sudur maknanya harus dihindari. Jadi, kehematan itu berkaitan dengan kecukupan. Jal ini berarti kita hendaknya menggunakan kata (-kata) tidak lebih dari yang diperlukan.





