RANGKUMAN BAB V


Membetulkan dan Mengefektifkan Kalimat
 

A. Pengantar

Untuk dapat membetulkan sesuatu, kita harus mengetahui dengan tepat letak kesalahanya terlebih dahulu. Demikian pula dalam pembetulan suatu kalimat. Kesalahan penyimpangan dari aturan yang benar atau betul. Pada garis besarnya kesalahan itu dapat dibedakan menjadi kesalahan ejaan (termasuk di dalamnya kesalahan tanda baca) dan kesalahan tata bahasa.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat ditangkap dan mudah dipahami oleh pembaca, menghayati masing-masing tuturan itu . Kriteria lain adalah kelaziman. Pemakaian kata, susunan frasa dan kalimat tertentu dipandang lazim dalam ragam bahasa tertentu, namun belum tentu lazim dalam ragam bahasa lain.
 
B. Kesalahan Kalimat

Kesalahan kalimat dapat dibedakan dari dua segi, yakni kesalahan internal dan kesalahan eksternal. Disini kesalahan eksternal diukur dari kalimat-kalimat lain yang menjadi konteks atau lingkungannya.
Kesalahan dari segi internal dapat dipilah menjadi beberapa tipe. Tipe pertama adalah kesalahan kandungan isi yang menyebabkan kalimat menjadi tidak logis sebagaimana tampak pada contoh berikut :
“Menurut Habibi (dalam Nimbar, 1993) menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi yang diterapkan secraa tepat guna diarahkan untuk memberantas kemiskinan dan keterbelakangan.”
Semua kalimat diatas merupakan kalimat yang tidak logis. Pada kalimat kalimat diatas dapat dinyatakan siapa yang menyatakan. Jika dinyatakan hal itu, jawaban tidak ada, walaupun bisa saja dijawab dengan habibi. Akan tetapi , Habibi pada kalimat diatas tidak menempati pokok kalimat, melainkan keterangan sebagaimana disyaratkan oleh kata mereka. Jadi pertanyaan itu sebenarnya tidak dapat dijawab dengan Habibi. Baru bisa dijawab dengan habibi jika kalimatnya diubah menjadi Habibi (dalam Nimbara,1993) menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi yang diterapkan secara tepat guna diarahkan untuk memberantas kemiskinan dan keterbelakangan.
 
C. Membetulkan Kesalahan Kalimat

Ada beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat .
1. Kalimat tanpa subjek
Dalam menyusun sebuah kalimat seringkali dengan kata depan atau preposisi. Lalu verbanya menggunakan bentukaktif atau berawalan men-baik dengan atau tanpa akhiran kan. Dengan demikian dihasilkan kalimat-kalimat salah seperti di bawah ini :
a. Bagi yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya di kantor.
b. Untuk perbaikan prasarana pengairan tersebut memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat
Untuk membetulkan kalimat diatas dapat dilakukan dengan
1. Menghilangankan kata depan pada masing-masing kalimat tersebut, atau
2. Mengubah verba pada kalimat tersebut, misalnya dari aktif menjadi pasif
Jadi kemungkinan pembetulan kalimat tersebut adalah
a. Yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya dikantor
b. Perbaikan prasarana pengairan tersebut memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat.
2. Kalimat dengan Objek Berkata Depan
Kesalahan yang telah dibicarakan diatas dapat dikatakan sebgai kesalahan pemakaian kata depan pada awal kalimat yang biasanya diduduki subjek. Kesalahan pemakaian kata depan itu juga sering ditemui pada objek. Sebagai contoh :
1. Hari ini kita tidak akan membicarakan lagi mengenai soal harga, tetapi soal ada tidaknya barang itu.
2. Dalam setiap kesempatan mereka tidak bosan-bosanya mendiskusikan tentang dampak positif pembuatan waduk itu.
Kalimat diatas dapat dibetulkan dengan menghilangkan kata depan mengenai pada kalimat (1) tentang pada kalimat (6). Kesalahan seperti pada contoh diatas ini juga terjadi karena mengacaukan dua bentuk yang benar, yaitu :
- Membicarakan soal harga
- Berbicara mengenai soal harga
- Mendiskusikan dapak positif pembuatan waduk
- Berdiskusi tentang dampak positif pembuatan waduk
3. Konstruksi Pemilik Berkata Depan
Kesalahan pemakaian kata depan lain ang ditemui pada konstruksi frasa : termilik + pemilik. Secara berlebihan sering ditemui adanya kecenderungan mengeksplisitkan hubungan antara termilik dengan pemilik dengan memakai kata depan dari atau daripada, misalnya :
1. Kebersihan lingkungan adalah kebutuhan dari warga
2. Buku-buku dari pada perpustakaan perlu ditambah
Konstruksi frasa yang sejenis dengan kebutuhan dari warga dan buku-buku daripada perpustakaan ini sering kita dengan ddalam pidato-pidato (umumnya tanpa teks). Dalam karangan keilmuan konstruksi frasa yang tidak baku seperti diatas hendaknya dihindari karena dalam bahasa Indonesia hubungan “termilik” + pemilik bersifat implisit. Karena terpengaruh oleh (antara lain) bahasa Jawa hubungan “termilik+pemilik” sering di eksplisitkan dengan suffix-nya, misalnya :
- Rumahnya Arif
- Bajunya Reza
4. Kalimat yang ‘pelaku’ dan verbanya tidak bersesuaian.
Dalam kalimat dasar, verba dapat dibedakan menjadi verba yang menuntut hadirnya satu ‘pelaku’ dan verba yang menuntut hadirnya lebih dari satu ‘pelaku’. Dalam pembentukan kalimat, kesalahan yang mungkin terjadi ialah yang penggunaan verba dua ‘pelaku’, namun salah saty ‘pelakunya’ tidak tercantumkan’, contoh :
1. Dalam perkelahian itu dia berpukul-pukulan dengan gencarnya
2. Dalam seminar itu dia mendiskusikan perubahan sosial masyarakat pedesaan sampai berjam-jam.
5. Penempatan yang Salah Kata Aspek pada Kalimat Pasif Berpronomina
Menurut kaidah, konstruksi pasif berpronomina berpola aspek + pronomina + verba dasar. Jadi tempat kata aspek adalah dideppan pronomina. Kesalahan yang sering terjadi ialah penempatan aspek diantara pronomina dengan verba atau dalam pola : * pronomina + aspek + verba dasar, misalnya :
1. Saya sudah katakan bahwa …
2. Kita sedang periksa …
3. Kami telah teliti …
6. Kesalahan Pemakaian Kata Sarana
Dalam menyususn kalimat sering dipakai kata sarana, kata sarana itu dapat berupa kata depan dan kata penghubung. Kata depan lazimnya terdapat dalam satu frasa depan, sedang kata penghubung umumnya terdapat dalam kalimat majemuk baik setara maupun yang bertingkat.
Kesalahan pemakaian kata depan umumnya terjadi pada pemakaian kata depan di, pada, dan dalam. Ketiga kata depan ini sering dikacaukan, misalnya :
1. Disaat istirahat penyulih mendatangi para petani.
2. Benih itu ditaburkan pada kolam renang yang baru.
Kata depan di kalimat (1) seharusnya adalah pada; kata depan pada (2) seharusnya adalah dalam atau ke dalam; kata depan dalam (3) seharusnya adalah pada.
 
D. Efektifitas Kalimat

Ada beberapa yang mengakibatkan suatu kalimat menjadi kurang efektif. Penyebab suatu tuturan menjadi kurang efektif adalah :
1. Kurang Padunya Kesatuan Gagasan
Telah kita ketahui bahwa setiap tuturan terdiri atas beberapa bagian atau satuan gramatikal. Agar tuturan itu memiliki kesatuan gagasan, satuan-satuan gramatikalnya harus lengkap. Disamping itu, masing-masing satuan tersebut hendaknya mendukung satu gagasan utama atau ide pokoknya. Contoh :
“Setamat dari SMA, Wati bercita-cita melanjutkan studinya di Fakultas Ekonomi. Fakultas Ekonomi didirikan pada tahun 1972. Dosen, asisten, dan karyawanya mempunyai dedikasi yang cukup tinggi.
2. Kurang ekonomis pemakaian kata
Ekonomis dalam berbahasa berarti penghematan kata dalam tuturan. Penghematan ini berkaitan dengan masalah keseksamaan penuturan. Agar penuturan menjadi seksama, kata-kata yang dipakai hendaknya sesuai benar dengan gagasan yang ingin di ungkapkan. Untuk itu, kata-kata yang tidak diperlukan benar dipandang dari sudur maknanya harus dihindari. Jadi, kehematan itu berkaitan dengan kecukupan. Jal ini berarti kita hendaknya menggunakan kata (-kata) tidak lebih dari yang diperlukan.

Read Users' Comments (0)

Tugas Bahasa Indonesia ke-2



RANGKUMAN

D.  Pembentukan Lebih Lanjut

  • Pembentukan lebih lanjut ialah pembentukan kata turunan melalui proses morfologi bahasa indonesia dengan kata-kata serapan sebagai bentuk dasarnya.  Proses kata searapan ada tiga macam yaitu pengimbuhan, pengulangan dan pemajemukan.
  • Dalam kaitannya dengan penambahan awalan meng-, peng- dan peng-an perlu  diamati apakah kata dasar yang berupa kata serapan itu diperlakukan atau berbeda dengan kata-kata asli.
  • Kata yang diawali konsonan hambatan tak bersuara /p/, /t/, /k/ dan geseran apiko-alveolar /s/ jika mendapat awalan meng- atau peng- fonem tersebut hilang atau luluh, contohnya: pukul menjadi memukul dan pemukul, tolong menjadi menolong dan penolong.
  • Kata serapan diawali dengan konsonan hambatan bilabial tak bersuara /p/ dan jika mendapat awalan meng- dan peng- atau peng-an kata tersebut menjadi memaketkan, memarkir, memotret.
  • Kata-kata serapan yang diawali dengan konsonan hambatan apiko dental tak bersuara /t/ contohnya: target, teror, terjemah, telpon.
  • Agar dapat dibentuk sesuai dengan kaidah morfofonemik yang berlaku, kata asing kemudian menjadi kata dasar itu harus sudah dikenal dengan baik. Kata yang belum dikenal apabila mengalami proses morfofonemis menyebabkan sulit mengenal kata dasar dari suatu bentukan. Contoh yaitu men-tekel dan pen-tekel an
  • Konsonan geseran labio-dental tak bersuara /f/ dulu disesuaikan dengan sistem fonologi bahasa indonesia menjadi /p/. Contohnya: pikir menjadi memikirkan dan pemikiran.
  • Konsonan hambatan dorso-velar tak bersuara /k/ yang mengalami kata-kata katrol, kontak, konsep, dan keker luluh apabila mendapat awalan meng- atau konfliks peng-an. Contohnya mengatrol dan pengatrolan.
  • Kata-kata serapan yang diawali dengan fonem geseran apiko-dental tak bersuara /s/ ada yang mengalami peluluhan ada yang tidak. Contohnya: sample, setor, sekrup, dan setop.
  • Seperti halnya pada unsur serapan yang lain, kata-kata yang masih terasa asing mendapat perlakuan yang berbeda, contohnya pada kata “sinkrun” dan “sistematis”, jika mendapat awalan meng- dan peng-an menjadi mensinkrunkan dan pensinkrunkan.
  • Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan /pr/ seperti pada protes, program, produksi, dan praktik, jika mendapat awalan meng- /p/ tidak luluh menjadi: memprotes, memprogram dan lain lain.
  • Kata-kata serapan yang diawali dengan gugus /kr/ contohnya: kritik, kristal, kredit, kreatif konsonan /k/-nya tidak  hilang bila mendapat awalan meng- menjadi mengkritik, mengkristal dan tetapi /k/ itu lebur apabila mendapat awalan peng- atau peng-an menjadi pengritik dan pengristalan.
  • Kata-kata serapan yang diawali dengan gugus konsonan /tr/, /st/, /sk/,/sp/, /pl/, /kl/, konsonan yang awalnya tidak pernah mengalami peleburan, baik dalam pembentukan dengan awalan meng-, peng-, maupun konfiks peng-an.


  • Kata-kata serapan yang diawali oleh gugus konsonan yang terjadi atas tiga fonem dan fenom yang pertama berupa hambatan atau geseran tak bersuara, kalau ada, sudah tentu konsonan pertamanya tidak pernah lebur apabila mendapat awalan meng- atau peng-.
  • Kata-kata serapan itu tentu saja dapat  mengalami proses pengulangan seperti pada: traktor-traktor, computer-computer dan sebagainya. Kata-kata serapan tidak dapat mengalami perulangan sebagian yang berupa dwipurwa atau dwisana.


Read Users' Comments (0)

Rangkuman (Tugas Bahasa Indonesia)

A. Ucapan
Bahasa Indonesia bagi sebagian besar penuturnya adalah bahasa kedua.
Para penutur yang berbahasa Indonesia, bahasa Indonesia mereka terpengaruh oleh bahasa daerah yang telah mereka kuasai sebelumnya. Pengaruh bahasa dari tiap-tiap daerah menjadi ciri khas masing-masing.

B. Ejaan
Sebelum, EYD diumumkan, dalam tulis menulis dipergunakan Ejaan Soewandi atau ejaan Republik(19 maret 1947). Ejaan Van Ophuysen yang ketentuannya dimuat dalam Kitab Logat Melajoe yang disusun dengan bantuan Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’Mur dan Muhammad Taib Soetan Ibrahim(1901). Sebelum ejaan Van Ophuysen berlaku dalam tulis menulis dalam bahasa Melayu, digunakan huruf 2 Jawi atau Arab Melayu dan juga dengan huruf Latin dengan ejaan yang tidak teratur.

Penulisan Huruf
1. Penulisan Huruf Kapital
Digunakan untuk mengawali kalimat yang baru.
Contoh: Aku adalah

Digunakan sebagai huruf awal pada nama diri.
Contoh: Jevrendhi Ginting

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama yang berhubungan dengan nama Tuhan dan Kitab suci.
Contoh: "Semoga Dia tidak melupakan hamba-Nya".

Huruf Kapital digunakan juga dengan nama diri, gelar kehormatan, keturunan, atau kagamaan.
Contoh: Dr.Irfan Rahman, Nabi Musa, Haji Badrun, Sultan Hasanudin.
Nama jabatan juga ditulis diawal dengan huruf capital. Contoh : Gubernur Jawa Barat, Rektor Universitas Indonesia.
Nama diri yang kemudian menjadi nama jenis, tidak perlu ditulis dengan huruf kapital.

2. Huruf Tebal dan huruf Miring
Judul buku atau nama majalah, harus ditulis dengan huruf tebal.
Contoh: Tata Bahasa Baku Indonesia.

Apabila ditulis dengan tangan kata-kata yang merupakan judul buku ini harus diberi garis bawah.
Judul naskah yang belum diterbitkan sebagai buku seperti naskah skripsi, tesis, atau disertai cukup ditulis dalam tanda petik (“___”). Contoh: “Penulisan Sesuai EYD“

Judul karangan yang dimuat dalam majalah atau dalam buku kumpulan karangan, atau judul satu bab dari suatu buku yang harus ditulis dengan huruf miring, kalau diketik atau ditulis tangan di antara tanda petik. Contoh: Karangan Djoko Kencono yang berjudul “Penyempurnaan Ejaan Bahasa Indonesia”.

Huruf miring juga dipergunakan untuk menegaskan atau mengkhususkan kata, bagian kata atau kelompok kata. Contoh: Huruf pertama kata abad adalah a.

Huruf miring juga digunakan untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan asing. Contoh: Nama ilmiah buah manggis ialah carcinia mongostana.

3. Penulisan Partikel dan Awalan
Dalam menulis kata-kata sesuai dengan EYD perlu diperhatikan penulisan kata atau partikel yang dirangkaikan dan yang tidak dirangkaikan.
Ada kata atau awalan yang harus ditulis serangkai, yaitu adi- misalnya pada adidaya, adikuasa, adimarga, adibusana.
Ada juga yang tidak di rangkaikan seperti Maha Pemurah, Maha Mengetahui, Maha Pengampun.

4. Penulisan Bilangan
Bilangan ada yang harus ditulis dengan angka, ada yang harus ditulis dengan huruf.
Bilangan yang menunjukkan jumlah dari satu sampai sembilan ditulis dengan huruf.
Contoh : “dua juta rupiah”.

Dalam penulisan jumlah, ukuran dan timbangan itu di gunakan juga tanda titik dan koma.
Untuk menyatakan jam, misalnya pukul setengah tiga, tanda titik itu ditaruh antara jam dan menit. Contoh: 3 jam lima belas menit sebelas detik ditulis 3.15.11.

Bilangan tingkat dapat dinyatakan dengan huruf, dengan angka, dan dengan huruf dan angka.
Contoh keempat atau ke-4 atau IV.

Dalam kuitansi atau surat-surat yg mempunyai kekuatan hukum jumlah yang ditulis dengan angka masih disertai jumlah yang ditulis dengan huruf yang ditulis di antara tanda kurung.

5. Tanda Baca
Ada bermacam-macam tanda baca/pungtuasi, seperti titik (.), koma (,), titik koma (;), titik dua (:), dan petik (“..”).

a) TANDA TITIK (.)
Tanda titik dipakai untuk menandai berakhirnya kalimat.

Titik juga digunakan sesudah nomor bab atau subbab atau bagian dari subbab.

Singkatan dengan huruf kapital yang merupakan gelar yang diletakkan di belakang nama tetap menggunakan titik di belakang tanda koma tersebut. Contoh : Contoh: Dr. Dharma Tintri, Izzati Amperaningrum SE. MM.

Tanda titik juga digunakan dalam daftar pustaka yang rujukanya menggunakan sistem rujukan tahun dan halaman. Contoh: Alisyahbana, Sutan Takdir. 1949. Tata Bahasa Baru Indonesia. Jakarta: Pustaka Rakyat.


b) TANDA KOMA (,)
Digunakan untuk menandai adanya jeda atau kesenyapan antara dalam suatu kalimat.

Digunakan untuk membatasi bagian-bagian kalimat yang sudah mengandung koma.

Digunakan juga untuk memisahkan kalimat-kalimat dalam suatu perincian.

Dalam surat-surat keputusan tanda titik koma banyak digunakan untuk membatasi kalimat-kalimat yang merupakan bagian dari konsideransi dan bagian dari isi putusan itu sendiri.

c) TITIK KOMA (;)
Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh : Semua murid diperlakukan sama; tidak ada murid yang di anak emaskan.

Tanda titik koma juga digunakan untuk membatasi bagian-bagian kalimat yang sudah mengandung koma.
Contoh: Di toko swalayan itu Ayah membeli kemeja, sepatu, sapu tangan, dan kaos kaki; Danar membeli ikat pinggang, topi, dasi,dan kacamata; sedang Amat membeli buku tulis, pulpen, dan tas sekolah.

Tanda titik koma digunakan juga untuk memisahkan kalimat-kalimat dalam suatu perincian.
Contoh: Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:
1.Bapak DR. Aries Budi Setyawan dan Ibu Masodah SE. MM sebagai pembimbing 1 dan pembimbing 2, yang dengan penuh kesabaran telah memberikan petunjuk dan nasihat-nasihatnya;


d) TITIK DUA (:)
Digunakan dipakai akhir suatu pernyataan yang lengkap dan diikuti oleh rangkaian atau perincian. Contoh : Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma mempunyai dua jurusan: Jurusan Akuntansi dan Jurusan Manajemen.

Tanda koma juga digunakan dalam kalimat majemuk yang anak kalimatnya mendahului induk kalimatnya. Contoh: Meskipun hujan, ia pergi juga ke kantor.

Tanda koma digunakan juga untuk memisahkan dua kalimat yang setara yang dihubungkan dengan kata tetapi, atau, melainkan. Contoh: Orang itu kaya, tetapi tidak kikir.

Titik dua juga digunakan pada kata-kata misalnya, contohnya, dan sebagai berikut yang diikuti perinciaan.

Tanda titik dua juga digunakan untuk pemerian yang berbentuk formula, misalnya pemerian suatu organisasi. Juga dalam surat- surat undangan yang menyebutkan hari/tanggal, pukul, tempat, dan cara dalam bentuk formula.

Digunakan untuk membatasi judul karangan dengan subjudulnya, di antara surat dan ayat dalam kitab suci, diantara tahun dan halaman dalam rujukan kurung antara nama kota dan nama penerbit dalam daftar pustaka.

e) TANDA PETIK (“- “ ) 
Digunakan dengan tanda petik dalam tulisan atau ketikan biasanya dicetak dengan huruf miring.

Dalam karangan tercetak tanda petik juga digunakan untuk menandai kata-kata yang tidak digunakan dalam arti yang sebenarnya. Contoh : Itu dia “pahlawan” kita datang.


f) TANDA HUBUNG (-)
Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan kata-kata yang diulang seperti meja-meja , berjalan-jalan, buah-buahan.

Digunakan apabila huruf-huruf dirangkaikan dengan bilangan, huruf kecil, atau huruf kecil yang dirangkaikan dengan huruf kapital.

Tanda hubung juga digunakan untuk membatasi tanggal, bulan, dan tahun apabila semuanya ditulis dengan angka. Contoh 31-05-2010.

Tanda hubung juga digunakan untuk menghubungkan awalan atau akhiran dalam bahasa Indonesia yang dirangkaikan dengan kata dasar asing. Contoh: Di-smash , pen-tackle-an.

Tanda hubung juga digunakan untuk mendai hubungan kata-kata dalam kelompok kata agar tidak menimbulkan tafsiran yang tidak dikehendaki. Contoh: Istri pejabat yang-nakal itu.


6. TANDA-TANDA BACA YANG LAIN

Tanda–tanda baca yang lain ialah :

Tanda pisah (-)
- Untuk memisahkan kata-kata. Contoh : 1950--2005.

Tanda elipsis (…)
- Digunakan untuk menandai tuturan yang terputus-putus. Contoh : Kalau engkau tidak mau ….yah…, biarlah saya pulang saja.
- Digunakan dalam suatu kutipan menunjukan bahwa ada kata-kata yang tidak dikutip dalam kutipan tersebut. Contoh : “Morfem ialah ….bentuk bebas yang terkecil”.

Tanda Tanya (?)
- Digunakan untuk kalimat Tanya dan diletakan di akhir kalimat. Contoh : Di mana bapakmu?
- Tanda tanya yang ditaruh di antara tanda kurung digunakan untuk menyatakan keragu-raguan atau kesangsian. Contoh : Ia dilahirkan pada tahun 1896 (?)

Tanda seru (!)
- Tanda seru digunakan untuk menandai seruan/perintah/panggilan.

Tanda kurung ( )
- Tanda kurung juga digunakan untuk mengapit penjelasan atau keterangan. Contoh : keterangan ini (lihat tabel 10) menunjukan arus perkembangan baru dalam pemasaran dalam negeri.
- Tanda kurung juga untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan merupakan bagian yang pokok dari pembicaraan.
- Tanda kurung juga dipergunakan untuk mengapit angka atau huruf yang memerinci keterangan.

Tanda kurung siku ([ ])
- Tanda kurung siku digunakan sebagai tanda koreksi bahwa dalam naskah itu terdapat huruf , kata, atau kelompok kata yang ditulis di antara tanda kurung siku tersebut. Contoh: Si Bintang Men[d]engar bunyi gemerisik.
- Tanda kurung siku di gunakan juga untuk memberi tanda kurung di dalam bagian kalimat yang sudah menggunakan tanda kurung. Contoh: Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab 11 [lihat halaman 25 –38] tidak dibicarakan ) perlu di bentangkan di sini.

Tanda garis miring (/)
- Tanda garis miring digunakan dalam penomoran surat. Contoh: NO :7/TP09/k/91
- Untuk menunjukkan tahun anggaran atau tahun kuliah. Contoh : 2003/2004
- Garis miring berarti juga tiap-tiap atau per. Contoh : Rp2500/orang.

Tanda penyingkat/apostrof (‘)
- Digunakan untuk menunjukan adanya bagian–bagian yang dilesapkan. Contoh : Istana yang megah ‘kan ku dirikan (kan=akan)
Malam ‘lah tiba (‘lah=telah)
Januari’05 (‘05=2005)

Read Users' Comments (0)

Analisis Berita



Pemberantasan Korupsi Banyak Putusan Bebas Perlu Dikoreksi MA

Paragraf 1 :
JAKARTA, KOMPAS – Putusan MahkamahAgung yang membatalkan vonis bebas mantan Bupati Sragen Untung Sarono Wiyono mendapatkan apresiasi. Namun, MA diingatkan, masih banyak putusan bebas terhadap terdakwa kasus korupsi oleh pengadilan tindak pidana korupsi di daerah yang belum dikoreksi.
Analisis         :
LEAD      : Putusan Mahkamah Agung yang membatalkan vonis bebas mantan Bupati Sragen Untung Sarono Wiyono mendapatkan apresiasi.
What  –  putusan MA yang membatalkan vonis bebas mantan Bupati Sragen Untung  Sarono Wiyono


Paragfraf 2 :
 Anggota Badan Pekerja Indonesia Corruption Watch, Emerson Yuntho, Selasa (25/9), mengungkapkan, setidaknya 68 terdakwa masih berstatus bebas oleh putusan pengadilan tipikor. MA baru menganulir tiga putusan bebas dari total 71 terdakwa,yaitu Wali Kota Bekasi (nonaktif) Mochtar Mohammad dan mantan Bupati Subang Eep Hidayat (keduanya divonis Pengadilan Tipikor Bandung) serta mantan Bupati Sragen Untung Wiyono (Pengadilan tipikor Semarang).
Analisis :
Who    –  Anggota Badan Pekerja Indonesia Corruption Watch, Emerson Yuntho
When  –  Selasan (25/9)
How    –  setidaknya 68 terdakwa masih berstatus bebas oleh putusan pengadilan  tipikor.
How    –  MA baru menganulir tiga putusan bebas dari total 71 terdakwa,yaitu Wali Kota Bekasi (nonaktif) Mochtar Mohammad dan mantan Bupati Subang Eep Hidayat (keduanya divonis Pengadilan Tipikor Bandung) serta mantan Bupati Sragen Untung Wiyono (Pengadilan tipikor Semarang).





Paragraf 3 :
Juru Bicara MA Djoko Sarwoko, yang juga Ketua Muda Pidana Khusus MA, kepada wartawan mengungkapkan, pihaknya sudah menerima hasil uji eksaminasi sejumlah putusan bebas yang dilakukan ICW. Hasil eksaminasi itu dijadikan dasar pertimbangan oleh MA untuk melakukan mutasi promosi hakim.
Analisis :
Who  -  Juru Bicara MA Djoko Sarwoko, yang juga Ketua Muda Pidana Khusus MA,
What  -  pihaknya sudah menerima hasil uji eksaminasi sejumlah putusan bebas yang dilakukan ICW.
What  -  Hasil eksaminasi itu dijadikan dasar pertimbangan oleh MA untuk melakukan mutasi promosi hakim.


Paragraf 4 :
Kepala biro Hukum dan Humas MA, Ridwan Mansyur sebelumnya juga mengungkapkan, putusan bebas lainnya akan dinilai oleh majuelis kasasi yang dibentuk oleh Ketua MA. Para hakim agung akan memeriksa secara cermat apakah putusan bebas itu memang sudah semestinya atau sengaja dibuat bebas.
Analisis :
Who  -  Kepala biro Hukum dan Humas MA, Ridwan Mansyur
What  -  putusan bebas lainnya akan dinilai oleh majuelis kasasi yang dibentuk oleh Ketua MA.
Who  -  Para hakim agung akan memeriksa secara cermat apakah putusan bebas itu memang sudah semestinya atau sengaja dibuat bebas.


Paragraf 5 :
 Terkait soal putusan perkara itu, DPR tengah membahas sanksi terhadap hakim yang putusannya melanggar undang-undang bertentangan dengan realitas masyarakat, dan menimbulkan keonaran. Sanksi itu diusulkan agar hakim lebih berhati-hati dalam memutus perkara.
Analisis :
What  –  sanksi terhadap hakim dalam kalimat: Terkait soal putusan perkara itu, DPR tengah membahas sanksi terhadap hakim yang putusannya melanggar undang-undang bertentangan dengan realitas masyarakat, dan menimbulkan keonaran.
Why  -  Sanksi itu diusulkan agar hakim lebih berhati-hati dalam memutus perkara.

Paragraf 6 :
Klausul hukuman penjara atau denda bagi para hakim agung yang salah memutus perkara itu tertuang dalam Pasal 98 Rancangan Undang-Undang tentang MA. Dalam pasal itu disebutkan, para hakim agung diancam hukuman penjara paling lama 10 tahun atau denda paling besar Rp 10 miliar.
Analisis :
What  -  Klausul hukuman penjara atau denda bagi para hakim agung yang salah memutus perkara itu tertuang dalam Pasal 98 Rancangan Undang-Undang tentang MA.
How  -  Dalam pasal itu disebutkan, para hakim agung diancam hukuman penjara paling lama 10 tahun atau denda paling besar Rp 10 miliar.


Paragraf 7 :
Wakil Ketua Komisi III DPR Nasir Djamil menjelaskan, ancaman hukuman bagi hakim itu sebatas usulan. “Fraksi-fraksi juga belum sepakat dengan gagasan ini,” kata politikus Partai Keadilan Sejahtera itu. Ia menjelaskan, gagasan tersebut muncul karena DPR ingin para hakim agung lebih berhati-hati dalam memutus perkara yang ditangani. Sebab, sampai saat ini, masih ada oknum hakim yang memutus berdasarkan “pesanan”pihak tertentu dengan dalih kemandirian dan independensi.
Analisis :
Who  -  Wakil Ketua Komisi III DPR Nasir Djamil
What  -  ancaman hukuman bagi hakim itu sebatas usulan. “Fraksi-fraksi juga belum sepakat dengan gagasan ini,” kata politikus Partai Keadilan Sejahtera itu.
Why  -  gagasan tersebut muncul karena DPR ingin para hakim agung lebih berhati-hati dalam memutus perkara yang ditangani. Sebab, sampai saat ini, masih ada oknum hakim yang memutus berdasarkan “pesanan”pihak tertentu dengan dalih kemandirian dan independensi.







Paragraf 8 :
Fraksi PKS, kata Nasir, tidak setuju dengan gagasan itu. Sebab, Fraksi PKS kwatir hal itu justru akan membuat hakim takut dalam mengambil putusan. Selain itu, pemidanaan juga dikhwawtirkan justru akan merampas independensi hakim. Analisis :
Why - Sebab, Fraksi PKS kwatir hal itu justru akan membuat hakim takut dalam mengambil putusan. Selain itu, pemidanaan juga dikhwawtirkan justru akan merampas independensi hakim.

Paragraf 9 :
Anggota Komisi III dari Fraksi Partai Demokrat, Saan Mustopa, juga mengatakan, prinsipnya putusan hakim tidak bisa diintervensi, tetapi harus ada perangkat untuk mengontrol perilaku hakim.
Analisis :
Why - prinsipnya putusan hakim tidak bisa diintervensi, tetapi harus ada perangkat untuk mengontrol perilaku hakim.

Paragraf 10
Sementara itu, kata Juru Bicara Komisi Yudisial Asep Rahmat Fajar, Komisi Yudisial meminta DPR meninjau ulang pasal pemidanaan terhadap hakim agung itu karena berpotensi mengganggu independensi kekuasaan hakim.
Analisis :
Why - DPR meninjau ulang pasal pemidanaan terhadap hakim agung itu karena berpotensi mengganggu independensi kekuasaan hakim.

Read Users' Comments (0)

Sinopsis dan Resensi Film 5cm




  • Judul Film      : 5cm
  • Sutradara       : Rizal Mantovani
  • Produser        : Sunil Soraya
  • Genre              : Drama
  • Pemeran         : Herjunot Ali, Fedi Nuril, Denny Sumargo, Raline Shah, Igor Saykoji, Pevita Pearce
  • Tanggal Rilis  : 12 Desember 2012 
  • Bahasa            : Indonesia

    Diangkat dari Novel National Bestseller ‘5cm’ karya Donny Dhirgantoro
Sinopsis
     Genima remaja yang telah menjalin persahabatan yang cukup lama, akhirnya pada suatu hari mereka berlima merasa "jenuh" dengan relationship ini, dan akhirnya mereka memutuskan berpisah untuk sementara dan berjanji tidak saling berhubungan dan berkomunikasi satu dengan yang lainnya selama 3 bulan.
     Namun setelah 3 bulan berpisah, banyak kerinduan yang mereka rasakan. Dalam perpisahan singkat itu, mereka menemukan "sesuatu" yang merubah mereka untuk menjalani hidup lebih baik. Akhirnya mereka putuskan kembali untuk bertemu dan merayakan kembali pertemuan mereka dengan mendaki puncak tertinggi di Pulau Jawa yaitu Gunung Semeru.
      
Perjalanan mereka ke puncak Semeru untuk mengibarkan bendera Merah Putih di puncak tersebut tepat pada tanggal 17 Agustus. Sebuah perjalanan yang membuat kelima pemuda ini semakin mencintai Indonesia. Banyak aral melintang dalam perjalanan mereka menuju puncak.

Resensi
     Kisah ini menceritakan persahabatan antara lima pemuda yang bernama Gentayang diperankan Fedi Nuril, Arial (diperankan Denny Sumargo), Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah), dan Ian diperankan oleh Igor "Saykoji". Film ini berdasarkan novel yang berjudul sama karya Donny Dhirgantoro. Resensi ini merupakan sebuah resensi film, jadi tidak dihubungkan dan tidak dibandingkan dengan novelnya. Penilaian yang dilihat dari film.
     Humor, tingkah laku, dan percakapan yang terjadi bisa dianggap sebagai keseharian yang pernah terjadi di dunia nyata, tetapi tetap ada bagian yang memang tidak pantas terjadi di dunia nyata. Riani yang merupakan perempuan sendiri selalu menjadi bagian yang terlindungi daripada teman-temannya. Mereka berlima semuanya telah lulus masa kuliahnya, tetapi hanya Ian yang belum. Ian terlalu sibuk mengerjakan hal lain seperti bermain game, menonton film yang ‘biru’ dan uniknya selalu suka makan mie. Keunikan perempuan yang paling cantik ini, Riani selalu meminta kuah mie temannya. Arial yang memiliki tubuh atletis, bila kenalan dengan wanita lain, selalu grogi. Zafran memiliki keunikan berbeda pastinya, dia seorang yang puitis, dan menyukai adiknya Arial bernama Dinda. Hubungan mereka berdua selalu datar, hanya hubungan jalan di tempat. Genta, yang merupakan pekerja rajin dalam perusahaan bersama Riani, selalu terdiam bila bertatap-tatapan dengannya, dia menyukai Riani tapi tidak bisa diungkapkan walaupun mereka sudah kenal lama.
     Pada suatu malam mereka main kerumah Arial, berkumpul ditempat mereka biasa ngobrol dan bersantai ria. Tanpa disangka-sangka Genta mempunyai sebuah gagasan yang bikin mereka merasa sedih sekaligus bimbang. Genta ingin mereka berlima selama tiga bulan tidak boleh bertemu maupun berkomunikasi dengan cara apapun. Selama itu kita harus melakukan kegiatan yang ingin dicapai tanpa berhubungan dengan mereka berlima. Riani merasa dia tidak kuat tanpa mereka semua yang selalu bersama dalam berkegiatan maupun berkomunikasi. Ian setuju, karena dia ingin menyelesaikan skripsinya yang telah lama dia abaikan. Dengan begitu dia bisa fokus akan kegiatanannya dengan menyelesaikan skripsi hingga sidang.
     Kerja keras Ian sempat mengalami cobaan, tetapi Ian tetap tidak menyerah dia terus berusaha karena orang tua Ian telah merestui Ian untuk kuliah S2 di Manchester. Ian patah semangat saat dia memberi 300 lembar kuesioner ke salah satu perusahaan. Kuesioner Ian tentang SDM. Tetapi, disini kita bisa liat bahwa putus asanya kita, bila ada orang yang meminta bantuan ke kita, kita harus menolongnya, bukan karena putus asa kita jadi enggan menolong sesama. Ada salah seorang yang bekerja di tempat tersebut, dia ingin meminjam Dongkar ke Ian, tetapi Ian cuek, akhirnya dia meminjamkan dongkar milik Ian, dan kebetulan dia bekerja dalam mengurus SDM. Cocok seperti kuesioner yang Ian teliti.
     Sementara itu Zafran sibuk menelpon adiknya Arial, namanya Dinda. Zafran selalu menelpon Dinda dengan obrolan yang itu-itu saja. Disini ada scene yang menarik dimana Zafran sedang random chat dengan salah satu akun untuk curhat. Bisa dibilang mirip ‘MIRc’ gitu. Ternyata Zafran bisa dibilang sedang ber-chat dengan Riani, yang scene selanjutnya menuju Riani yang sedang di kantor menunggu hujan reda. Sama yang sedang diobrolkan di chat Zafran. Riani memang sangat sedih akan keputusan tersebut. Dia merindukan sahabt-sahabatnya.
     Selama satu bulan mereka semua mengalami kegiatan yang tidak biasa. Terutama Arial, pada saat dia sedang nge-gym, dia berhasil kenalan dengan seorang wanita bernama Nindi. Dia berani mengajak Nindi ke villa puncak orang tuanya. Tetapi dengan sopan mengajak Nindi, tanpa ada hal yang macam-macam. Kisah mereka ternyata terus berjalin hingga mendekati akhir film ini.
     Tiga bulan lamanya telah berlalu, Genta menghubungi sahabatnya dan memberitahui mereka, selama seminggu, harus setiap hari latihan lari. Untuk mempersiapkan diri. Mereka berkumpul di stasiun kereta untuk keberangkatannya menuju tempat misterius yang Genta janjikan. Mereka semua telah datang, kecuali Ian yang masih dalam perjalanan. Kereta sudah bergerak, Ian pada saat itu baru muncul. Ian akhirnya berhasil naik ke dalam kereta, walaupun kelelalah mengejar kereta yang pada saat itu belum jauh.
     Rasa penasaran mereka akhirnya terjawab, mereka akan mendaki menuju puncak Jawa tertinggi, di Mahameru. Mereka tidak hanya berlima, Arial mengajak adiknya Dinda. Berenam mereka mempersiapkan diri dari tempat penginapan hingga perjalanan mendaki ke puncak. Keindahan Mahameru dan sekitarnya begitu menakjubkan. Keindahan alam Indonesia yang memang tidak ada duanya di mana pun. Sebagai warga negara Indonesia, patut bersyukur atas apa yang Tuhan berikan, dari alam maupun isinya.
     Kelucuan pun terjadi saat mereka sudah sampai di tanjakan cinta, dinamakan cinta karena bentuk dari tanjakan itu membentuk simbol ‘cinta’. Jika kita menanjak tanpa melihat kebawah dan memikirkan seorang wanita yang ingin kita miliki, dipercaya keinginannya akan terwujud.  Zafran dan Ian langsung mendahului, bayangannya Zafran ingin berpasangan dengan Dindan dan Ian bersama Happy Salma. Tiba-tiba Genta memanggil mereka berdua dari bawah, otomatis Zafran dan Ian mengengok kebelakang, beberapa saat mereka akhirnya sadar, kekonyolan mereka berdua membuat mereka putus asa akan keinginannya.
     Saat menegangkan pun tiba, mereka berlima sudah mencapai kaki Mahameru. Suhu di tempat tersebut sangat dingin, bila tidak banyak bergerak, tubuh bisa kaku kedinginan. Arial yang saat itu tidak kuat lagi, dengan dorongan semangat dari teman-temannya, dia akhirnya bisa melanjutkan mendaki. Kejadian saat mendaki kembali terjadi, runtuhan batu dan kerikil mengenai Dinda dan Ian, Dinda mengalami luka disamping kiri bagian bawah telinga, Ian pingsan karena terbentur runtuhan batu yang lumayan besar sangat keras dihadapannya. Mereka berlima menolong Ian, Genta berusaha membangunkan Ian dengan napas buatannya dan menekan bagian dadanya agar bisa sadar. Zafran yang pada saat itu sangat terpukul karena sahabatnya sudah tiada, dia berteriak memanggil Ian, dan Ian pun sadar dengan kesadaran yang lucu.

 
Setelah semuanya sadar dan kuat, mereka berhasil mencapai puncak Mahameru, puncak tertinggi di pulau Jawa. Mengibarkan bendera merah putih, melihat matahari terbit 17 Agustus.

 
Taruh puncak itu di depan kita, dan jangan lepaskan !
Yang kita perlukan adalah kaki yang berjalan lebih jauh, dan tangan yang berbuat lebih banyak
Leher yang akan lebih sering melihat ke atas
Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja
Hati yang akan bekerja lebih keras
Serta mulut yang akan selalu berdoa

Dan setiap kali impian dan cita-cita muncul, letakkan di depan kening kita,
Jangan menempel, biarkan menggantung 5 cm di depan kening,
Supaya tidak terlepas dari mata kita
Dan yang bisa dilakukan seorang manusia terhadap mimpi dan keyakinannya adalah
Ia hanya tinggal mempercayainya. 
Menurut penilaian saya pribadi dari segi film bukan buku :
    • Kelebihan    : Judul film ini sangat unik dan pendek tapi memiliki cerita yang sangat menyentuh. Film yang bisa bikin penontonnya lebih menghargai dan meningkatnya rasa nasionalis bangsa Indonesia.
    • Kekurangan : Menampilkan Mahameru dan sekitarnya kurang diekspos secara luas, hanya sebagian yang kita lihat. Ada kecerobohan disalah satu adegan di stasiun kereta, saat Ian mengejar kereta yang sudah bergerak maju, dia mengejar pintu masuk yang sudah ditunggu teman-temannya, tetapi dibelakang ada pintu masuk yang terbuka. Seharusnya bila ingin terlihat lebih baik, Ian bisa langsung lewat pintu masuk yang dibelakangnya. Tetapi mungkin demi keselamatan Ian tidak ingin mengambil resiko bila terjadi kecelakaan karena tidak ada yang menarik Ian masuk. Karena badan Ian gemuk, jadi sulit dikendalikan.
Kesan dari film 5cm adalah Banyak pesan dan moral yang bisa kita ambil dalam film 5cm ini. Tidak ada kata penyesalan untuk menonton film 5cm, karena filmnya memang sangat bagus untuk ditonton :)

Read Users' Comments (0)